Monday, January 19, 2026
NU Kabupaten Cirebon
NEWSLETTER
No Result
View All Result
  • Warta
    • Nasional
    • Daerah
  • Ragam
  • Opini
  • Keislaman
    • Doa dan Dzikir
    • Fiqih
    • Khutbah
    • Tasawuf
    • Tafsir
  • Pesantren
  • Tokoh
  • Kisah
  • NU Peduli
  • Kirim Tulisan
NU Kabupaten Cirebon
  • Warta
    • Nasional
    • Daerah
  • Ragam
  • Opini
  • Keislaman
    • Doa dan Dzikir
    • Fiqih
    • Khutbah
    • Tasawuf
    • Tafsir
  • Pesantren
  • Tokoh
  • Kisah
  • NU Peduli
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
NU Kabupaten Cirebon
No Result
View All Result

Pemudik Sebaiknya Puasa atau Tidak? Ini Jawabannya!

sofhaladnan by sofhaladnan
27/03/2025
in Fiqih, Warta
0
Home Keislaman Fiqih

NU Cirebon

RELATED POST

Konfercab Fatayat NU Kabupaten Cirebon Tetapkan Ketua Baru, Dorong Rejuvenasi Kepemimpinan Perempuan

Ansor-Banser Gelar Apel Kebangsaan, 10 Ribu Banser Siaga Pengamanan Nataru 2026

MUDIK Lebaran merupakan tradisi tahunan yang dilakukan umat Islam Indonesia untuk berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Namun, perjalanan jauh selama Ramadan sering kali menimbulkan dilema: lebih baik tetap berpuasa atau membatalkan puasa?

Dalam fikih Islam, seorang musafir diberikan keringanan (rukhshah) untuk tidak berpuasa, sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Qur’an:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka barang siapa di antara kalian sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajib mengganti sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari lain.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Baca: Bolehkah Mudik tidak Puasa? Simak Syaratnya Berikut!

Para ulama memiliki dua pandangan utama mengenai mana yang lebih baik bagi musafir: tetap berpuasa atau membatalkannya.

1. Pendapat yang mengutamakan tetap berpuasa

Pendapat pertama menyatakan bahwa tetap berpuasa lebih utama bagi musafir, selama tidak menimbulkan kesulitan yang berarti. Pendapat ini dipegang oleh:

  • Imam Abu Hanifah beserta para pengikutnya
  • Imam Malik
  • Imam Syafi’i dalam sebagian riwayat

Imam Abu Hayyan al-Andalusi dalam Tafsir Al-Bahrul Muhith menyatakan:

وَاخْتَلَفُوا فِي الْأَفْضَلِ ، فَذَهَبَ أَبُو حَنِيفَةَ ، وَأَصْحَابُهُ ، وَمَالِكٌ ، وَالشَّافِعِيُّ فِي بَعْضِ مَا رُوِيَ عَنْهُمَا : إِلَى أَنَّ الصَّوْمَ أَفْضَلُ.

“Para ulama berselisih pendapat mengenai mana yang lebih utama (bagi musafir, tetap berpuasa atau tidak). Imam Abu Hanifah beserta para pengikutnya, Imam Malik, dan Imam Syafi’i dalam sebagian riwayat mereka berpendapat bahwa berpuasa lebih utama.”

2. Pendapat yang mengutamakan tidak berpuasa

Pendapat kedua menyatakan bahwa membatalkan puasa lebih utama, karena sesuai dengan keringanan yang diberikan oleh Allah Swt kepada musafir. Pendapat ini dianut oleh:

  • Imam Al-Auza’i
  • Imam Ahmad bin Hanbal
  • Imam Ishaq bin Rahuyah

Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Bahrul Muhith:

وَذَهَبَ الْأَوَزَاعِيُّ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ إِلَى أَنَّ الْفِطْرَ أَفْضَلُ.

“Imam Al-Auza’i, Imam Ahmad, dan Imam Ishaq berpendapat bahwa membatalkan puasa lebih utama.”

3. Pendapat yang mengombinasikan keduanya

Pendapat ketiga mencoba menggabungkan kedua pandangan di atas. Imam Al-Juwayni dalam Nihayatul Mathlab menjelaskan:

فَالْمُسَافِرُ بِالْخِيَارِ بَيْنَ الصَّوْمِ وَالْإِفْطَارِ وَالصَّوْمُ أَفْضَلُ مِنَ الْفِطْرِ إِذَا لَمْ يَظْهَرْ ضَرَرٌ.

“Maka musafir bisa memilih antara berpuasa dan tidak. Dan berpuasa lebih utama jika tidak ada bahaya.”

Hal ini juga ditegaskan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haytami dalam Tuhfatul Muhtaj:

وَمَرَّ أَنَّهُ إِنْ تَضَرَّرَ بِالصَّوْمِ فَالفِطْرُ أَفْضَلُ، وَإِلَّا فَالصَّوْمُ أَفْضَلُ.

“Jika musafir merasa kesulitan atau membahayakan diri dengan berpuasa, maka tidak puasa lebih baik. Tetapi jika tidak ada kesulitan, maka puasa lebih baik.”

Mana yang lebih baik bagi pemudik?

Berdasarkan pendapat ulama di atas, pemudik yang sedang dalam perjalanan jauh memiliki dua pilihan:

1. Jika merasa mampu berpuasa tanpa kesulitan yang berarti, maka lebih baik tetap berpuasa.

2. Jika perjalanan terasa berat dan berisiko menimbulkan bahaya atau kelelahan yang berlebihan, maka lebih baik berbuka dan mengganti di hari lain.

Pemilihan ini bersifat fleksibel, bergantung pada kondisi masing-masing individu.

Tips puasa saat mudik agar tetap nyaman

Bagi pemudik yang ingin tetap menjalankan puasa, berikut beberapa tips agar tetap kuat dan nyaman selama perjalanan:

1. Sahur dengan makanan bergizi yang tinggi protein dan serat agar energi bertahan lebih lama.

2. Minum air yang cukup saat sahur agar tubuh tidak mudah dehidrasi selama perjalanan.

3. Hindari makanan asin atau pedas yang dapat mempercepat rasa haus.

4. Gunakan pakaian yang nyaman dan tidak panas untuk mengurangi rasa gerah selama perjalanan.

5. Jika memungkinkan, pilih perjalanan yang tidak terlalu melelahkan, seperti menggunakan kendaraan yang nyaman atau mengatur jadwal perjalanan lebih awal.

6. Bawa bekal makanan dan minuman sebagai cadangan jika memutuskan untuk berbuka dalam perjalanan.

7. Tetap prioritaskan keselamatan. Jika kondisi tubuh terasa lemah atau perjalanan sangat melelahkan, lebih baik memanfaatkan keringanan untuk berbuka.[]

Wallahu A’lam…. 

*Artikel ini merupakan hasil dari program serial Fikih Puasa yang digagas LBM PCNU Kabupaten Cirebon. 

Ikuti saluran WhatsApp NU Cirebon untuk mendapatkan update artikel menarik lainnya.

Tags: Fikih PuasaIdulfitriLBMLebaranMudikRamadan 205
ShareTweetPin

Related Posts

Konfercab Fatayat NU Kabupaten Cirebon Tetapkan Ketua Baru, Dorong Rejuvenasi Kepemimpinan Perempuan
Banom

Konfercab Fatayat NU Kabupaten Cirebon Tetapkan Ketua Baru, Dorong Rejuvenasi Kepemimpinan Perempuan

25/12/2025
Ansor-Banser Gelar Apel Kebangsaan, 10 Ribu Banser Siaga Pengamanan Nataru 2026
Banom

Ansor-Banser Gelar Apel Kebangsaan, 10 Ribu Banser Siaga Pengamanan Nataru 2026

23/12/2025
Bacaan Niat Puasa Sunnah Rajab
Fiqih

Bacaan Niat Puasa Sunnah Rajab

20/12/2025
6 Amalan Sunnah yang Dianjurkan di Bulan Rajab
Fiqih

6 Amalan Sunnah yang Dianjurkan di Bulan Rajab

18/12/2025
Resmi Dilantik, PC IPNU IPPNU Kabupaten Cirebon 2025–2027 Fokus pada Ilmu Pengetahuan, Kemandirian, dan Kebudayaan
Warta

Resmi Dilantik, PC IPNU IPPNU Kabupaten Cirebon 2025–2027 Fokus pada Ilmu Pengetahuan, Kemandirian, dan Kebudayaan

17/12/2025
Cara Pemesanan eNU Mineral via Platform 1 Klik
Warta

Cara Pemesanan eNU Mineral via Platform 1 Klik

07/12/2025
Next Post
Sedekah Takjil, Cara KBNU Karangwareng Pererat Solidaritas di Bulan Ramadan

Sedekah Takjil, Cara KBNU Karangwareng Pererat Solidaritas di Bulan Ramadan

Jln. Dewi Sartika No. 9, Sumber

Follow us

RECENT NEWS

  • Konfercab Fatayat NU Kabupaten Cirebon Tetapkan Ketua Baru, Dorong Rejuvenasi Kepemimpinan Perempuan
  • Ansor-Banser Gelar Apel Kebangsaan, 10 Ribu Banser Siaga Pengamanan Nataru 2026
  • Bacaan Niat Puasa Sunnah Rajab
  • 6 Amalan Sunnah yang Dianjurkan di Bulan Rajab

CATEGORIES

  • Agenda
  • Banom
  • Daerah
  • Doa dan Dzikir
  • Fiqih
  • Hukum
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Khutbah Jumat
  • Lembaga
  • MWC
  • Nasihat Ulama
  • Nasional
  • Opini
  • PC NU
  • Pengumuman
  • Pesantren
  • Ragam
  • Sirah
  • Tafsir
  • Tanya-Jawab
  • Tasawuf
  • Tawsiyah
  • Tokoh
  • Uncategorized
  • Warta
  • Agenda
  • Amaliya-NU
  • BANOM NU Kabupaten Cirebon
  • Home
  • Home 1
  • Home 2
  • Home 3
  • Khutbah Jum’at
  • Kirim Tulisan
  • Lembaga NU Kabupaten Cirebon
  • Login
  • MWC NU Kabupaten Cirebon
  • NU TV Cirebon
  • PC NU Kabupaten Cirebon
  • Pesantren
  • Registrasi Garuda Cyber NU
  • Submissions
  • SUSUNAN REDAKSI

© 2023 PC NU Kabupaten Cirebon - Dikelolah Oleh LTN NU Kabupaten Cirebon.

No Result
View All Result
  • Warta
    • Nasional
    • Daerah
  • Ragam
  • Opini
  • Keislaman
    • Doa dan Dzikir
    • Fiqih
    • Khutbah
    • Tasawuf
    • Tafsir
  • Pesantren
  • Tokoh
  • Kisah
  • NU Peduli
  • Kirim Tulisan

© 2023 PC NU Kabupaten Cirebon - Dikelolah Oleh LTN NU Kabupaten Cirebon.