NU Cirebon
Cirebon – Memasuki abad kedua kiprahnya, Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Cirebon menegaskan arah baru gerakan yang lebih progresif dan solutif. Momentum genap satu abad Masehi tidak sekadar menjadi perayaan historis, melainkan penanda transformasi peran: dari fokus pada pemeliharaan tradisi ritual keagamaan menuju keterlibatan aktif dalam menjawab persoalan sosial, lingkungan, dan ekonomi yang dihadapi masyarakat Cirebon hari ini.
Penegasan tersebut mengemuka dalam puncak peringatan Hari Lahir ke-100 Masehi yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cirebon di Aula PCNU, Rabu (11/2/2026).
Ketua PCNU Kabupaten Cirebon, KH Aziz Hakim Saerozi, menekankan urgensi perubahan paradigma gerakan NU di abad kedua. Ia menilai, energi kader dan struktur organisasi perlu diarahkan pada isu-isu substantif yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Menurut beliau, perdebatan klasik seputar persoalan furu’iyyah atau cabang-cabang keagamaan yang dahulu kerap mengemuka, kini tidak lagi menjadi tantangan utama. Ia menyinggung polemik tentang qunut yang pada dekade 1990-an sempat memicu perdebatan panjang di tengah publik.
Kini, kata Kiai Aziz, realitas yang dihadapi jauh lebih konkret dan mendesak. Persoalan sampah yang terus meningkat, degradasi moral, hingga tantangan di ruang digital menuntut respons yang lebih sistematis dan solutif.
Kondisi tersebut sejalan dengan dinamika Kabupaten Cirebon yang dikenal sebagai Kota Wali. Di tengah identitas religius yang kuat, daerah ini juga menghadapi persoalan penyakit masyarakat dan maraknya konten negatif di ruang digital. Dalam konteks inilah, NU diharapkan tidak berhenti pada posisi pengamat.
Kiai Aziz mendorong seluruh jajaran organisasi, mulai dari tingkat ranting hingga Majelis Wakil Cabang (MWC), untuk mengambil peran strategis sebagai penjaga moralitas publik. NU, tegasnya, harus tampil sebagai kekuatan yang mampu memberi arah, menghadirkan solusi, sekaligus menjadi rujukan etik di tengah perubahan sosial yang cepat.
Kemandirian Ekonomi dan Model Berbasis Jamaah
Selain penajaman orientasi gerakan sosial, peringatan satu abad Masehi juga menjadi momentum penguatan kemandirian ekonomi organisasi. Salah satu langkah konkret ditandai dengan pemberian NU Mineral Award, sebagai apresiasi atas pengelolaan unit usaha air mineral milik NU.
Sejumlah MWC, seperti Ciwaringin, Sumber, dan Dukupuntang, dinilai berhasil membukukan pembagian keuntungan yang signifikan dari usaha tersebut. Capaian itu dipandang sebagai contoh praktik ekonomi berbasis jamaah yang dapat direplikasi di wilayah lain.
Model ini tidak hanya memperkuat struktur organisasi, tetapi juga membuka ruang pemberdayaan ekonomi warga secara lebih terstruktur. Dengan demikian, transformasi NU di abad kedua tidak berhenti pada wacana sosial-keagamaan, melainkan merambah pada penguatan daya saing ekonomi.
Rangkaian peringatan ditutup dengan pemotongan 100 tumpeng sebagai simbol perjalanan satu abad NU. Tradisi tersebut menjadi penanda memasuki fase baru: NU Kabupaten Cirebon yang lebih responsif terhadap persoalan lokal, lebih solutif dalam gerak sosial, dan lebih berdaya dalam membangun peradaban di abad keduanya.




