250 Santri Ikut Pelatihan Media Digital yang Digelar LTN NU

Warta

CIWARINGIN – Lembaga Taklif Wanasr (LTN) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Pelatihan Media Digital di Pondok Pesantren (Pontren) Assalafie, Babakan, Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Senin (27/8). Kegiatan terselenggara atas kerjasama LTN PBNU, LTN PCNU Kabupaten Cirebon, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo), dan Pontren Assalafie dan diikuti sekitar 250 santri dari berbagai daerah di wilayah Cirebon.

Tema yang diusung dalam kegiatan tersebut adalah Dakwah Konten Positif di Era Digital. Sejumlah pengisi acara dihadirkan dalam sesi talkshow antara lain Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim Septiana Tangkari, Ketua LTN PBNU Hari Usmayadi, dan Direktur Nusa TV Dr Arwani Syaerozi.

Acara dilanjutkan dengan workshop serta praktek pembuatan video dan konten positif yang diisi oleh para ahli uyang tergabung dalam komunitas Indonesiabaik.id.

Dalam kesempatan itu Ketua LTN PBNU, Hari Usmayadi mengatakan bahwa kemajuan teknologi informasi, selain memberikan manfaat bagi masyarakat, juga sebaliknya bisa menimbulkan kerugian atau “kerusakan. Paling tidak ada dua produk kemajuan teknologi informasi yang bisa melahirkan mafsadat yakni hoax dan pornografi.

Hari mengingatkan peserta pelatihan untuk mewaspadai dua konten negatif baik di media sosial maupun website. Menurut Hari, saat ini banyak tantangan dakwah yang dihadapi oleh warga Nahdlatul Ulama (NU).

Dari sekian banyak tantangan yang ada, ada dua yang menjadi ancaman paling besar yakni berita bohong atau manipulatif (hoax) dan pornografi dalam berbagai bentuk di media digital tersebut. “Ada dua tantangan basar dakwah kita yakni hoax dan pornografi,” kata dia.

Salahsatu ancaman dari hoax adalah terganggunya kerukunan baik antarwarga, antarsuku, antargolongan, maupun antar pemeluk agama di Indonesia. Jika tidak dibendung, maka bangsa Indonesia terancam terjadi perpecahan antarwarganya.

Dikatakan, kondisi Indonesia hari ini lebih baik dibanding negara lain di Timur Tengah. Terutama dalam hal kerukunan dan kebersamaan warganya.

“Kondisi nasional negara kita lebih baik dari negara Timur Tengah di bidang kerukunan, keberagaman agama, suku, dan bangsa. Karena di negara kita ada Pancasila dan NU,” ujar Hari.

NU menjadi instrumen penting karena memiliki peran besar dalam menjaga keutuhan bangsa. Beberapa amanah dari ulama NU di antaranya prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harga mati dan Islam Nusantara menjadi pagar bagi persatuan yang kini dapat tumbuh berkembang di kelas menengah dan perkotaan.

Dalam pandangan Hari, saat ini Arab Saudi sudah beranjak menjadi negara Islam yang moderat. Sebelumnya, negara ini dikuasai oleh para penganut Wahabi yang cenderung garis keras.

“Sekarang Arab Saudi  berubah dari garis keras Wahabi menjadi Islam moderat. Terakhir imam masjid di Arab Saudi ditangkap karena (terpapar) radikal,” kata dia menambahkan. (Kus)