Ber-NU itu Tanda Ber-Islam yang Baik

Opini Warta

Oleh: KH Ahmad Muthohar, M.Pd *)

Nahdlatul Ulama (NU) itu organisasi yang sangat hebat dan luar biasa. Kehebatan dan keluarbiasaan itu dibuktikan dengan partisipasinya yang sangat luar biasa terhadap bangsa ini. Dari tahapannya menuju proses kemerdekaan sampai pada proses ikhtiar menjaga dan mempertahankan kemerdekaan, dengan menumpahkan jiwa dan raganya untuk menjaga empat pilar negara yang kita cintai ini.

Kehebatan NU dalam pengkhidmatan kepada negara dan umat itu dapat dilihat dengan gerak dan langkah NU secara institusional yang tidak pernah berhadap-hadapan dengan negara dan penguasanya, meski NU di marginalkan sekalipun. NU secara institusional tidak pernah membuat narasi-narasi provokatif, tidak pernah melakukan provokasi umat untuk menjadi umat yang membenci dan membangkang pada pemerintahnya. Sikap NU ini bukan semata-mata persoalan “selara”, tetapi ini adalah prinsip dasar dalam beragama yang amat fundamental.

Ber-NU

Ber-NU itu tidak  sekedar berorganisasi, berkumpul dan berkonsolidasi seperti berkumpul dan berkonsolidasi pada yang lainya, ber-NU itu setidaknya di dalam rangka mewujudkan empat hal yang sangat mulia.

Pertama, berikhtiar dan berusaha menjadi santrinya Mbah Hasyim Asy’ari, sesuai dawuh beliau, siapa saja yang ngopeni NU maka akan diaku santrinya beliau. Jadi, ketika kita ngurusi NU pada hakikatnya kita sedang menjadi santri beliau. Tentu berharap menjadi santri yang sholeh, yang baik. Pada kalimat santri inilah kita musti menempatkanya pada pengertian orang yang sam’an wa tho’atan, yang sendiko dawuh yang betul-betul memahami dengan baik posisi “imam dan m’amum”. Karenanya ber-NU yang baik adalah yang tidak banyak membiarkan tapi-kan-tapi-kan di dalam dirinya. Ber-NU yang baik adalah dengan cara banyak berhusnudzon pada ulama-ulama kita, pada pemimpin kita, dan lebih penting lagi menjaga marwah NU.

Kedua, berikhtiar belajar menjadi pribadi yang konsisten berpatokan pada istrumen agama yang syumul (konfrehensif), tidak parsial dan hanya sesuai selera saja. Itulah mengapa NU dalam ber-ahlussunnah wal jamaah annahdliyah menggunakan pendekatan:

  1. Pada Imam Abi Al Hasan Al Asy’arie dan Abi Manshur Al Maturidi dalam bingkai teologi/tauhid.
  2. Pada Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal dalam bidang fiqih.
  3. Pada Imam Al Ghozalie dan Imam Junaidi Al Baghdadi pada bidang Tasawuf atau Akhlak,

Karena bingkai qonun asasi itulah yang mampu melahirkan pandangan-pandangan wasatiyah, pandangan rahmatal lilalamin, dan pandangan yang realistis, serta aplikatif dalam kehidupan yang serba niscaya ini.

Ketiga, sebagai ikhtiar kolektif (melalui NU) untuk mengadvokasi umat, ikhtiar mewujudkan yadulloh ma’al jama’ah, alaikum bissawadil a’dzom.

Keempat, sebagai ikhtiar bersyukur pada Allah SWT atas anugrah-anugrah-Nya yang diberikan pada bangsa Indonesia dan warganya melalui NU. Mulai dari raihan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 yang hanya 19 tahun, merpertahankan kemerdekan. Dua bulan kemudian, tepatnya 22 Oktober 1945 dengan resolusi jihadnya. Terhempasnya PKI 1965 dengan diawali kesediannya menerima konsep NASAKOM. Tentu banyak anugrah-anugrah lain yang tak terhingga jumlahnya. Anugrah-anugrah untuk bangsa dan warganya itu semuanya lewat NU. Karenanya sudah sepatutnya kita bersyukur kepada Allah SWT melalui NU, melalui ngopeni NU, merawat NU dan menjaga NU.

Itulah refleksi pengejawantahan syukur anugrah-anugrah benar, man lam yasykurinnas lam yasykurillah (Orang yang tidak bisa bersyukur pada manusia, maka ia tidak mungkin bisa syukur pada Allah SWT). Karenanya mari gelorakan terus menerus ber-NU dengan baik, kita yang butuh NU, bukan NU yang butuh kita. Wallohu ‘alam bissowab.

*) Penulis adalah Wakil Rois Syuriyah PCNU Kabupaten Cirebon. Sekaligus Wakil Rektor III UNU Cirebon.